Pilihan Selamat Lewati Resesi Ekonomi

Grafik Penurunan Ekonomi

JAKARTA  – Kali terakhir Indonesia mengalami resesi  adalah pada 1999, sudah lebih dari 20 tahun lalu. Tidak heran kepastian apakah Indonesia bakal resesi atau tidak menjadi sorotan publik.

Sayangnya, semakin hari tanda-tanda ke arah resesi rasanya semakin jelas. Satu hal yang harus diingat adalah jangan panik.Sebab yang penting adalah seberapa cepat Indonesia bangkit dari resesi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terang-terangan menyebutkan, bahwa perekonomian Indonesia di kuartal III-2020 kemungkinan besar masih negatif. Perekonomian di kuartal III ini diramal akan berada di kisaran -2% hingga 0%.

Jika perekonomian di kuartal III negatif maka Indonesia akan resmi masuk jurang resesi. Sebab, perekonomian di kuartal II-2020 juga negatif 5,34%.

Namun, Sri Mulyani menekankan bahwa resesi bukanlah hal yang buruk. Apalagi semua instrumen kebijakan akan dilakukan oleh pemerintah agar perekonomian tetap berjalan.

“Kalau secara teknikal kuartal III ini kita di zona negatif maka resesi terjadi. Namun tidak berarti kondisinya sangat buruk,” ujarnya di gedung DPR RI, Senin 7 September 2020.

Jika benar Indonesia masuk resesi, apa yang bisa dilakukan:

Hindari Kepanikan

Ketika pasar finansial jatuh- di mana ditandai dengan IHSG yang melorot, nilai tukar rupiah yang depresiasi terhadap dolar AS, bank kesulitan likuiditas- maka satu hal yang harus dilakukan adalah tidak panik.

Jangan terbawa arus seperti ramai-ramai menarik dana di bank ataupun menutup usaha dan memecat Asisten Rumah Tangga (ART). Kepanikan bisa memperburuk keadaan.

Satu yang pasti, dana nasabah di bank itu aman 100%. Indonesia memiliki LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Singkat kata, apapun yang terjadi di bank, bahkan jika tutup, maka LPS-lah yang akan menanggung dana masyarakat.

Inti dari resesi adalah ketenangan dan pikiran jernih untuk tetap menatap masa depan.

Atur Lebih Cermat Keuangan

Mengatur pemasukan dan pengeluaran lebih detail adalah kunci selamat dari resesi ekonomi.

Ketika ekonomi jatuh, maka ada baiknya kencangkan ikat pinggang. Pos-pos pengeluaran yang bisa ditekan seperti berlangganan tv berbayar, sampai dengan hal kecil seperti mengirit pemakaian listrik bisa jadi kunci.

Yang bisa dilakukan antara lain, lunasi segera dari sedini mungkin tagihan kartu kredit. Pergi ke bank untuk segera restrukturisasi dengan menyerahkan kartu kredit dan mencicilnya secara konsisten.

Jauhkanlah langkah-langkah untuk jadi debitur bandel dengan tidak membayar tagihan-tagihan dan kewajiban. Ada baiknya melepaskan cicilan mobil yang berat. Over kredit secara resmi ataupun menjualnya dan menutup utang pokok bisa dilakukan.

Cash is The King!

Kumpulkan uang-uang anda yang berceceran. Maksudnya, investasi-investasi yang sudah menunjukkan pemburukan maka ikhlaskan-lah. Solusinya tarik yang masih ada dan pindahkan ke instrumen yang mudah dicairkan. Tabungan, emas, maupun perhiasan bisa jadi solusi.

Riset Deutsche Bank, rumah tangga di negara maju tercatat meningkatkan simpanan bank mereka secara signifikan, untuk menahan lebih banyak likuiditas di masa yang tidak pasti.

American Institute for Economic Research menuliskan menahan lebih banyak uang tunai selama masa-masa sulit bukanlah hal yang aneh. Uang kertas dan deposito adalah instrumen terbaik untuk mengatasi ketidaknyamanan ketidakpastian.

Karena instrumen ini cair dan stabil. Siapa pun yang memilikinya dijamin bahwa jika ada kebutuhan yang tidak terduga muncul, mereka dapat dengan cepat mengerahkan sumber dayanya untuk mengatasinya.

Tapi yang perlu diingat adalah, hati-hati dalam menyimpan uang banyak-banyak di rumah. Manfaatkanlah bank ataupun safe deposits box.

Hasil

Jay Adkisson kontributor Forbes yang sering menulis tentang Personal Finance mengatakan, kemerosotan sebenarnya hanyalah musim bagi perekonomian dunia.

Kali ini Covid-19 yang menjadi sesuatu yang luar biasa, dan membuat pasar ambruk. Seperti ambruknya pasar perumahan pada tahun 2008.

Hal-hal itu hanyalah badai salju pertama tahun ini yang membawa musim dingin yang datang selama ini. Sekarang, musim dingin ekonomi sedang menimpa, bekerja dengan keras tanpa panik dan tetap saling membantu sesama menjadi kunci hadapi pandemi dan resesi. 


Percayalah, “keadaan normal” akan kembali walaupun tidak dalam waktu dekat. Tetap optimistis! Dikutip dari CNBC Indonesia